MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
PENGARUH
PACARAN
DIKALANGAN
REMAJA MASA KINI
OLEH
:
NAMA : MARTAULI SIBARANI
NIM :
ACC 115 055
DOSEN PEMBIMBING :
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN
PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PALANGKARAYA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya
kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah ini dengan tepat pada waktunya yang berjudul “PENGARUH
PACARAN di KALANGAN REMAJA MASA KINI”.
Makalah
ini berisikan tentang informasi Meningkatkan Rasa Percaya Diri, Diharapkan
dengan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang pacaran
diusia remaja dan pacaran yang tidak
bertentangan dengan agama kita.
Saya
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata,
saya sampaikan terima kasih.
Palangkaraya
, Juni
2016
Penulis
Martauli Sibarani
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masa
remaja adalah masa yang indah. Banyak hal yang terjadi pada masa transisi
remaja dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Satu proses masa yang semua anak
manusia sedang dan akan terjadi dalam sebuah proses tumbuh kembang remaja.
Dunia remaja memang unik, sejuta peristiwa terjadi dan sering diciptakan dengan
ide-ide cemerlang dan positif. Namun demikian tidak sedikit juga hal-hal
negatif yang terjadi.
Salah
satu hal yang menarik dan terjadi dalam dunia remaja adalah trend pacaran yang
digemari sebagian remaja walau tidak sedikit juga orang dewasa gemar
melakukannya. Bahkan ada rumor yang menarik, bahwasannya bila ada remaja yang
belum punya pacar berarti belum mempunyai identitas diri yang lengkap. Memang
tidak dapat dipungkiri bila pacaran merupakan fenomena tersendiri dikalangan
remaja. Dan kalaupun dicari satu definisi tersendiri pacaran maka akan sulit.
Sebagian ada yang mendifiniskan pacaran adalah ajang dari untuk mendapatkan
kepuasan seksual, atau pacaran hanya sebagai label “saya punya pacar dan
mendogkrak percaya diri”. Ataukah pacaran adalah suatu hal yang penting karena
dengan pacaran kita punya seseorang yang bisa membantu kita dalam mengatasi
persoalan hidup dan untuk definisi
pacaran tentu akan ada banyak yang lainnya.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang dapat dibuat adalah sebagai
berikut:
1.
Menjelaskan pengertian dari pacaran.
2.
Menjelaskan apa penyebab pacaran
diusia dini.
3.
Menjelaskan apa dampak pacaran
diusia dini.
4.
Menjelaskan dampak berpacaran
terhadap prestasi belajar.
5.
Menjelaskan siapa pembimbing remaja
yang berpacaran diusia dini.
C.
Tujuan
Makalah
Berdasarkan
perumusan masalah yang kami buat sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk menjelaskan pengertian dari
pacaran.
2.
Untuk menjelaskan apa penyebab
pacaran diusia dini.
3.
Untuk menjelaskan apa dampak pacaran
diusia dini.
4.
Untuk menjelaskan apa dampak
berpacaran terhadapprstasi belajar.
5.
Untuk menjelaskan siapa pembimbing
remaja yang berpacaran diusia dini.
D.
Manfaat Makalah
Manfaat
yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi kalangan remaja yang belum
mengerti tentang berpacaran dengan baik hal ini dapat di jadikan sebagai
masukan dan pengetahuan dalam hal berpacaran.
2. Bagi orang tua makalah ini dapat dijadikan sebagai pencerahan
bagaimana membimbing anak-anaknya saat berpacaran yang baik.
3. Memahami dengan baik dampak
positif yang di dapatkan berpacaran saat remaja.
4. Memahami dengan baik dampak
negative yang di akibatkan berpacaran
saat remaja dan di harapkan untuk menjauhi dan menghindarinya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian pacaran
Menurut
DeGenova & Rice (2005) pengertian pacaran adalah menjalankan suatu hubungan
dimana dua orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat
saling mengenal satu sama lain. Menurut Bowman (1978) pacaran adalah kegiatan
bersenang-senang antara pria dan wanita yang belum menikah, dimana hal ini akan
menjadi dasar utama yang dapat memberikan pengaruh timbal balik untuk hubungan
selanjutnya sebelum pernikahan di Amerika.
Benokraitis
(1996) menambahkan bahwa pacaran adalah proses dimana seseorang bertemu dengan
seseorang lainnya dalam konteks sosial yang bertujuan untuk menjajaki
kemungkinan sesuai atau tidaknya orang tersebut untuk dijadikan pasangan hidup.
Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang telah
direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang (biasanya
dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan jenis).
Kyns
(1989) menambahkan bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang yang
berlawanan jenis dan mereka memiliki keterikatan emosi, dimana hubungan ini
didasarkan karena adanya perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing.
Menurut Reiss (dalam Duvall & Miller, 1985) pacaran adalah hubungan antara
pria dan wanita yang diwarnai keintiman. Menurut Papalia, Olds & Feldman
(2004), keintiman meliputi adanya rasa kepemilikan. Adanya keterbukaan untuk
mengungkapkan informasi penting mengenai diri pribadi kepada orang lain (self
disclosure) menjadi elemen utama dari keintiman.
Berdasarkan
pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan pengertian pacaran adalah serangkaian aktivitas
bersama yang diwarnai keintiman (seperti adanya rasa kepemilikan dan
keterbukaan diri) serta adanya keterikatan emosi antara pria dan wanita yang
belum menikah dengan tujuan untuk saling mnengenal dan melihat kesesuaian
antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah.
B.
Penyebab
Pacaran di Usia Remaja
1.
Globalisasi
Globalisasi pada masa sekarang ini tidak dapat lagi
dibendung. Globalisasi yang paling mempengaruhi para remaja sekarang
adalah globalisasi akibat berkembangnya internet. Dari situlah para remaja
mendapat dorongan untuk mencontoh budaya bangsa barat yang tidak sesuai
diterapkan di Indonesia seperti konsuntif, hedonisme dan gonta-ganti pasangan
hidup. Sehingga mendorong para remaja untuk berpacaran di usia dini.
2.
Membuktikan diri cukup menarik
Pada saat ini, para remaja sudah melewati batas
bergaul yang telah di tetapkan oleh orang tua. Mereka sudah mengenal pacaran
sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka merupakan salah satu bentuk gensi
yang membanggakan. Selain itu, pacar merupakan sesuatu yang dapat membuktikan
bahwa mereka cukup menarik dan patut untuk mendapat perhatian dari lingkungan
sekelilingnya.
3.
Adanya pengaruh kawan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan merupakan salah
satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka
di mata teman-temannya.
Akan tetapi jika tidak dapar dikendalikan, pergaulan itu
akan menimbulkan kekecawaan. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga
mempunyai gaya hidup tertentu pula seperti halnya berpacaran. Apabila si remaja
berusaha mengikuti tetapi tidak sanggup memenuhinya maka remaja tersebut
kemunginan besar akan di jauhi oleh teman-temannya.
C.
Dampak
Pacaran Di Usia Remaja
1.
Dampak
Positif
a. Belajar bersosialisas
Dengan berpacaran kita akan mampu
bersosialisasi dengan pasangan kita, sehingga kita mampu mengetahui
karakteristik seseorang dan membuat kita tidak canggung dalam bersosialisasi
dengan orang asing yang baru kita jumpai. Karena kita telah belajar
bersosialisasi dengan pasangan kita.
b. Mempelajari karakteristik
berbagai macam orang
Namun, kalau kita perhatikan apa yang dapat remaja
lakukan ketika dia mendapati bahwa pasangannya itu tidak cocok dengannya? Kata
yang keluar adalah ‘putus’! Bukannya mencoba untuk bisa mengerti satu sama
lain, para remaja hanya mempelajari untuk bercerai. Bagaimana tidak? Karena
faktor usia yang dibawakan dalam diri hanya emosi sesaat.
Jika dikatakan alangkah lebih menyenangkan untuk mempelajari
diri sendiri dulu, membenahi diri, dan berupaya untuk bisa beradaptasi dengan
banyak orang. Ketimbang mengikatkan diri dengan satu orang yang kadang kala
membuat sakit hati, lebih baik seorang remaja mencoba untuk berbaur dengan yang
lainnya. Di situ dia bisa ‘mempelajari karakteristik orang lain’. Dan, dia juga
sedang mempelajari dirinya sendiri tentunya.
Setelah dia bisa mengendalikan emosinya – ini merupakan saat
yang tepat untuk berpacaran – tentunya dia sudah berani berkomitmen. Jadi,
berpacaran bukan hanya untuk having fun. Tidaklah pantas menurut penulis jika
seseorang mempermainkan perasaan orang lain. Lagipula, masa remaja yang penuh
gejolak ini akan sangat memberikan keragu-raguan dalam hal berpacaran. Maka
dari itu, beberapa orang tua melarang anaknya untuk berpacaran (walau ada juga
yang tidak).
2.
Dampak
Negatif
a.
Kekerasan fisik
Koalisi
Antikekerasan di Alabama menyebutkan bahwa satu dari tiga anak mengalami
kekerasan fisik selama pacaran usia dini. Bentuknya seperti mendorong, memukul,
mencekik, dan membunuh. Kejahatan tersebut sangat tertutup karena pihak korban
ataupun pelaku tidak mengakui adanya masalah selama hubungan kencan. Penyebab
kekerasan fisik pada remaja di antaranya kecemburuan, sifat posesif, dan
temperamen dari pasangan si anak remaja. Pelaku, misalnya, mengontrol cara
berpakaian si anak. Hal itu sebenarnya adalah bentuk kekerasan, yang sering
kali dilihat oleh si anak sebagai bentuk perhatian.
b.
Kekerasan seksual
Pemerkosaan
dalam pacaran adalah bentuk kekerasan seksual dalam pacaran. secara
seksual terjadi ketika seseorang diserang secara seksual oleh orang lain yang
dikenal dan dipercaya, seperti teman kencan. Kekerasan seksual dapat juga
terjadi saat korban mabuk di suatu pesta, misalnya. Pesta menjadi ajang yang
paling mudah bagi pelaku untuk mengincar remaja dengan lebih dahulu memberikan
narkoba, kemudian menjadikannya korban kekerasan seksual.
c.
Cenderung menjadi pribadi yang rapuh
Anak
remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala,
perut dan pinggang. Mereka juga lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya
yang belum pernah pacaran. Seseorang, yang mengenal cinta lebih dini cenderung
menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi,
contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi, terutama
jika remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.
Mereka
punya kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka benar-benar
meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara psikologi mereka
sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya. Akibat terlalu
mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya.
Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya
mereka jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa.
Dari situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya
Mereka
yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan pasangan
lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih tertutup.
Hal itu memicu perasaan stres dan penyakit fisik lainnya.
d.
Menurunkan konsentrasi
Hal
ini terjadi jika remaja telah mengakhiri hubungan dengan pacarnya
sehingga emosinya menjadi labil, konsentrasi menjadi buyar karena terus
memikirkan pacarnya sehingga remaja tersebut tidak dapat menyelesaikan
tugas-tugas yang di berikan kepadanya dan mengerjakan ulangan dengan baik
sehingga dapat menurunkan prestasi remaja tersebut.
e.
Menguras harta
Akan
menguras harta, karena orang yang pacaran akan selalu berkorban untuk pacarnya,
bahkan uang yang seharusnya untuk ditabung bisa habis untuk membelikan hadiah
untuk pacarnya.
D.
Dampak
Berpacaran Terhadap Prestasi Belajar
Bagi
remaja (siswa) pacaran merupakan sesuatu yang sudah biasa dilihat atau juga
dilakukan oleh para remaja (siswa), secara langsung maupun tidak langsung hal
tersebut dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka menjadi menurun
atau semakin giat belajar, Berpacaran dapat membuat prestasi belajar seorang
siswa menurun antara lain contoh-contoh tersebut adalah sebagai berikut, ketika
belajar seorang siswa yang berpacaran pasti akan terganggu konsentrasinya untuk
belajar karena pasanganya selalu mengirim SMS kepadanya dan siswa tersebut
pasti hanya fokus untuk membalas SMS pasangan dan melupakan waktu belajarnya,
kemudian siswa yang berpacaran juga dapat membuat malas untuk masuk sekolah di
saat bertengkar dengan pasangan atau berpisah dengan pasangan karena malas
bertemu denganya di sekolah, mungkin beberapa contoh tadi dapat mewakili dampak
negative yang ditimbulkan berpacaran pada saat usia remaja mesi masih banyak
contoh-contoh lainya.
Berpacaran
dapat pula membuat prestasi belajar seorang remaja (siswa) meningkat dan
semakin giat belajar antara lain contoh-contoh tersebut adalah sebagai berikut,
pada saat seorang siswa yang sedang berpacaran mereka dapat merasa tidak ingin
kalah dari pasanganya dalam hal apapun karena di saat dia kalah dari pasanganya
maka dia akan merasa malu dan ingin melebihi apa yang di raih pasanganya itu
terutama dalam hal pelajaran teradang mereka membuat suatu permainan kecil
dimana apabila salah satu seorang pasangan mendapat nilai yang jelek dari pasanganya
maka pasangan yang menang dia dapat meminta apa saja pada pasanganya tetapi
dalam batas kewajaran seperti dibelikan coklat,snack dll. Hal tersebut juga
dapat membuat mereka menjadi giat belajar dan apabila seoarang siswa yang
sedang berpacaran maka mereka akan selalu ingin masuk sekolah setiap hari
karena ingin bertemu pasanganya hal ini juga dapat mempengaruhi absensi siswa
dapat juga menjadi dorongan semangat untuk lebih giat belajar.
Dari
beberapa hal diatas seorang remaja (siswa) yang berpacaran hendaknya mendapt
bimbingan dari guru terutamanya adalah orang tua sehingga mereka dapat mendapat
sisi positif dan terhindar dari sisi negative yang di timbulkan.
E.
Pembimbingan Remaja yang Berpacaran
Bagaimanapun
seorang remaja(siswa) yang berpacaran, berpacaran memiliki dampak negative yang
lebih banyak di bandingkan dampak postifnya oleh karena itu peranan orang tua
dan guru sangat di perlukan untuk membimbing para remaja agar terhindar dari
prilaku-prilaku negative yang ditimbulkan berpacaran.
Beberapa
hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membimbing anak-anaknya adalah
memantau dan slalu mengawasi kegiatan mereka apakah mereka dapat menepatkan
waktu yang tepat atau tidak seperti saat belajar maka harus belajar dll. Hal
itu dapat membuat mereka tidak melupakan kegiatan belajarnya karena terlalu
memikirkan hubunganya, selain itu orang tua juga dapat mengajarkan hal-hal apa
yang di larang oleh agama kepada seseorang yang bukan muhrimnya sehingga
prilaku negative dapat dihindarkan akibat berpacaran.
Guru
adalah salah satu yang sangat berperan dalam prestasi belajar disekolah bagi
seorang siswa dimana guru merupakan orang tua setelah di sekolah selain di
rumah ada ayah dan ibu,peran guru dalam membimbing siswa yang berpacaran agar
tidak menurun prestasi belajarnya adalah dengan cara selalu memberi nasihat
semangat dan dorongan kepada siswa dan tak lupa mengajarakan bagaimana
berpacaran yang baik dan tidak melupakan kewajiban belajaranya selain hal
tersebut seorang guru dapat pula mengajarkan mana hal yang baik dan buruk
terutama pada guru agama sehingga mereka dapat mengerti dan menghindari
perilaku yang tidak baik pada saat berpacaran.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
dasarnya berpacaran saat remaja merupakan hal yang tidak baik karena secara usia
dan psikologi seorang remaja belum siap, tetapi apabila hanya untuk mengenal
satu-sama lain dan dalam batas sewajarnya hal tersebut tidak apa-apa dilakukan
terutama untuk meningkatkan prestasi belajar mereka sendiri selain itu peran
orang tua dan guru sangat penting agar mereka tidak terjerumus dalam
prilaku-prilaku tidak biak yang ditimbulkan.
B.
Saran
Dalam
melakukan hubungan pada saat remaja seperti berpacaran, hendaknya seorang
remaja seperti kita hanya focus untuk belajar saja dan meraih cita-cita, menyadari
dalam berpacaran usia seperti kita ini selayaknya belum mencukupi dan belum
matang untuk hubungan yang lebih serius karena belum siap dalam berbagai aspek
hal yang dibutuhkan.